Rabu, 11 Februari 2015

Minuman Berpemanis Tidak Tingkatkan Risiko Penyakit Ginjal Kronis

http://cdn0-a.production.liputan6.static6.com/medias/808513/big/048122800_1423486529-Minuman_Berpemanis.jpg



Liputan6.com, Jakarta Kita menjumpai banyaknya informasi maupun penelitian yang sering kali langsung menghubungkan konsumsi minuman-minuman berpemanis, seperti minuman bersoda salah satunya, sebagai penyebab terjadinya penyakit ginjal.
Spesialis Penyakit Dalam, Konsultan Ginjal & Hipertensi, yang berpraktik di Rumah Sakit Medistra Jakarta, Dr. Ginova Nainggolan, SpPD-KGH, mengutarakan bahwa "Sesuai data yang memicu terjadinya penyakit ginjal di Indonesia antara lain hipertensi, diabetes, batu ginjal, infeksi ginjal, penyakit autoimun, kista di ginjal, atau kelainan bawaan. Paling banyak hipertensi dan diabetes sekitar 60-70 persen," ucapnya. (Baca juga: Minuman ringan bukan penyebab utama obesitas).
Penyebab penyakit ginjal di luar dari hal di atas, misalnya oleh faktor tunggal, seperti halnya mengonsumsi minuman berpemanis atau minuman bersoda, perlu disikapi dengan hati-hati.
"Kerusakan ginjal itu penyebabnya kompleks dan multifaktor. Kalau diarahkan pada satu penyebab saja, maka data itu tidak kuat. Sampai sekarang belum pernah ada laporan yang spesifik soal itu," ujar Dr. Ginova dalam wawancara dengan Liputan6.com, Sabtu (7/2/2015).
Dr. Ginova menyayangkan jika ada informasi yang beredar dan langsung membuat kesimpulan tanpa didukung riset ilmiah yang mendalam. Menurutnya, untuk dapat menghasilkan studi yang teruji dan akurat itu membutuhkan waktu yang lama dan harus dilakukan dengan metodologi yang tepat
"Kalau mau melihat adanya hubungan sebab-akibat terhadap suatu kondisi kesehatan, maka kita harus membandingkan kondisi sebelum dan sesudah. Misalnya, ambil sampel dari kelompok orang yang minum minuman berpemanis dan yang tidak, lalu tentukan jangka waktunya kemudian diperiksa kondisinya. Pendekatan seperti itu lebih kuat datanya. Kalaupun hanya melakukan wawancara pada penderita ginjal, haruslah secara mendalam, termasuk melihat gaya hidupnya secara utuh, bukan hanya yang ia konsumsi. Riset-riset ini butuh waktu lama dan tidak bisa ambil kesimpulan cepat," jelas Dr. Ginova yang sudah berkecimpung di dunia kedokteran lebih dari 30 tahun.
Pernyataan Dr. Ginova ini mengingatkan kita pada studi Andrew S. Bomback, bersama empat pakar lain asal Amerika pada tahun 2009 yang diakui para ahli dibidang Nefrologi (Ginjal) serta telah dipublikasikan sebagai jurnal ilmiah.
Andrew S Boomback, bersama para ahli lainnya membandingkan 477 orang dalam Multi-Ethnic Study of Atherosclerosis (MESA) dan meneliti hubungan antara konsumsi minuman berpemanis lebih dari 1 porsi/hari, lebih dari 1 porsi/minggu dan 1-6 porsi/minggu terkait dengan kondisi penyakit ginjal kronis.
Salah satu temuannya yang sudah dipublikasikan sebagai Jurnal Ilmiah yakni American Journal of Clinical Nutrition pada 9 September 2009) adalah tidak ada perbedaan dalam hal risiko secara klinis pada penurunan fungsi ginjal. Penelitian ini juga menyimpulkan adanya kelemahan hubungan konsumsi minuman berpemanis dengan peningkatan risiko penyakit ginjal kronis.
Selanjutnya penyebab utama sakit ginjal kronis…

SUMBER: http://health.liputan6.com/read/2172846/minuman-berpemanis-tidak-tingkatkan-risiko-penyakit-ginjal-kronis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar